
| Category: | Music |
| Genre: | Alternative Rock |
| Artist: | Discus |
Discus 1st
Mellow (MMP 365), 1999
Tracklist:
1. Lamentation & Fantasia Gamelantronique — 8:14
a. Lamentation
b. Fantasia Gamelantronique
2. For This Love — 6:20
3. Doc's Tune — 7:49
4. Condissonance — 5:54
5. Dua Cermin — 5:43
6. Wujudkan! — 4:41
7. Violin Metaphysics — 5:40
8. Anugerah — 4:14
9. Contrasts — 12:57
a. Opening & Meditation
b. Gambang Suling
c. Q/A & Odd Time Improvisations
d. Ostinato (Metal Attack!)
e. Lydian Piano Theme & Minor Dance
f. Gambang Suling
total time 61:32
Perkenalkan group progresif baru: Discus (baca Diskus) - - nama yang diambil dari nama seekor ikan air tawar yang bentuknya unik dengan banyak ornamen dan warna. Personelnya delapan orang: Iwan Hasan (guitaris, 21-string harpguitar, balinesse rindik, electronic percussion & lead vocal), Anto Praboe (clarinet, bass clarinet, flute & saxophones), Eko Partitur (Violin & electronics), Fadhil Indra (keyboards & background vocals), Hayunaji (drums & electronic percussion), Kiki Caloh (5 string & fretless bass guitar), Krisna Prameswara (keyboards & MIDI percussion programming), dan Nonnie (lead vocals). Discus terbentuk pada tahun 1996 dan pernah tampil dalam Jak Jazz tahun 1997.
Album debut mereka, Discus 1st, diliris pertama kali di Italia oleh Mellow Records, label terbesar kedua di Eropa setelah Musea (Prancis), yang mengkhususkan diri untuk musik progresif, untuk disebarluaskan di seluruh dunia. "Kami ingin mencoba, masa sih grup dari Indonesia harus diliris di Indonesia juga. Rasanya musik Indonesia perlu juga untuk unjuk gigi di kancah internasional. Ternyata, Mellow Records sangat senang dengan musik kami. Mereka lebih antusias daripada label Indonesia yang belum terbiasa dengan jenis musik progresif. Jadinya, karena birokrasi yang mudah juga, album ini lebih duluan diliris di Italia," kata para personel Discus kompak.
Sesuai dengan nama yang mereka pilih, Discus menampilkan warna musik yang beragam. Ada jazz, klasik, rock, pop, tradisional, dan kontemporer. Menurut Iwan Hasan, musik progresif adalah aliran tersendiri dengan kebebasan yang luas untuk memasukkan dan menggabungkan jenis musik dan bunyi apa saja. Yes, Emerson, Lake and Palmer, dan Gentle Giant adalah sekian contoh band besar asing yang membawakan musik progressive.
Seberapa besar persentase jazz, klasik, atau rock tergantung pada ramuan grup tersebut. Selain elemen jazz yang porsinya agak banyak, musik tradisional juga muncul dalam debut album mereka. Tapi Discus tidak mengklaim dirinya sebagai grup yang harus memasukkan unsur musik tradisional. "Kami tidak tergoda untuk memakai unsur gamelan sekedar untuk membuktikan bahwa Discus bisa memainkan alat musik tradisional. Kalau sebuah lagu memang membutuhkan unsur tradisional, ya, kami masukkan, tetapi kalau tidak, kami tidak akan memaksa. Yang penting kami meramu musiknya sedemikian rupa sehingga tidak asal tempel," kata Iwan Hasan. Kadang-kadang mereka juga menyampaikan musik dengan nuansa Timur, sesuai dengan asal mereka yang dari Timur. Kamu bisa mendengarkan nuansa Timur ini dalam laguViolin metaphysics yang ditulis Eko Partitur.
Unsur tradisional dan nuansa Timur inilah yang membedakan Discus dengan band progresif lain, terutama dari Barat. "Musik tradisional adalah musik yang luar biasa dan menarik yang tidak bisa lepas dari hidup kita. Tetapi karena kebanyakan anak muda kita mendengarkan musik Barat, jadinya mereka tidak tertarik dengan musik tradisional," ujar Iwan menjelaskan.
Kamu yang terbiasa melihat judul lagu musik pop mungkin akan menemukan perbedaan dengan judul lagu dalam album Discus. Grup ini mengikuti pola penulisan judul lagu seperti dalam musik progresif di Barat. Sebuah lagu panjang dibagi-bagi menjadi beberapa bagian (bagian a, b, c, d, e, f). "Pada zaman Barroque dan Klasik, sudah dikenal musik yang terdiri atas beberapa bagian. Kalau dalam Klasik ada First Movement, Second Movement, dalam musik Barroque dikenal jenis lagu Suite yang terdiri atas Prelude, Allamande, Sarabande, Bourre," tutur Iwan.
Dalam proses penciptaan lagu, konsep dasar kebanyakan datang dari Iwan sebaga music director, selain Fadhil Indra dan Eko Partitur yang juga menulis musik. Tetapi masing-masing personel tetap diberi kebebasan penuh untuk mengembangkan musik terutama dalam hal improvisasi. Ada sih, lagu yang harus dimainkan sesuai partitur seperti Condissonance, tetapi ada juga yang dimainkan sesuai feel masing-masing personel. Singkatnya, semua personel ikut andil sampai sebuah lagu matang.
Kamu mau tahu beberapa proses penciptaan lagunya? Apa sih yang ada di kepala mereka ketika itu?
Lagu Lamentation & Fantasia Gamelantronique (yang dibagi dalam dua bagian: a dan b) diciptakan Iwan Hasan ketika hatinya meratap (lamentation artinya meratap) melihat berbagai kerusuhan dan pembunuhan kiai-kiai. "Saya mengekspresikan perasaan saya dengan cara bernyanyi ala rock dan Gregorian yang tanpa lirik. Lalu saya buat suasana mencekam dari bunyi satu kord pada alat musik organ," kata Iwan. Ada juga bunyi gitar elektrik yang terdengar seperti bunyi gamelan dan lonceng dengan pitch yang random yang ditulis dalam musik Fantasia (dalam idiom Klasik, Fantasia adalah bentuk musik yang tidak terikat seperti bentuk musik lainnnya: bait-reff-bait, misalnya).
Eko Partitur lain lagi. "Ketika masih SMP, saya pernah berdiri di tengah lapangan sambil main gitar pukul 9 malam. Tiba-tiba saya mendengar suara ombak, burung, kereta, dan angin yang memekakkan telinga. Tetapi si sekitar saya tidak ada yang mendengarkan suara itu. Saya sangat takut, saya berdoa . . . . . . Kini saya mencoba menerjemahkan perasaan itu, walaupun tidak bisa semuanya," kata Eko. Maka lahirlah lagu Violin Metaphysics yang juga menggambarkan kegelisahannya terhadaap lingkungan yang semakin tercemar.
Sedangkan lagu Dua Cermin, yang ditulis Fadhil Indra, menggambarkan filosofi untuk menyatukan rasa sambil duduk bersama-sama ketika kita dilanda masalah yang sulit terpecahkan. "Filosofi ini bisa diterapkan dalam hubungan antar pria dan wanita dalam suatu pernikahan atau ditujukan untuk situasi politik kita saat ini," tutur Fadhil.
Penasaran dengan musik mereka? Dengarkan pendapat dari Paolo Rondelli, International Business Affairs Mellow Records. "The whole album is excellent!"
(dari "Discus melaju dengan musik progresif" - MUSIKAMU.com, 15 Februari 2001)
Musicians:
Iwan Hasan: guitars, 21-string harpguitar, Balinese and electronic
percussion, vocals
Anto Praboe: clarinet, bass clarinet, flute, saxophones:
Eko Partitur: violin, electronics
Fadhil Indra: keyboards, vocals
Hayunaji: drums, electronic percussion
Kiki Caloh: bass
Krisna Prameswara: keyboards, MIDI percussion programming
Nonnie: vocals
